, , ,



    Dalam program TV "Tanyalah Ustaz", di TV9, Ustaz Sharhan Shafie seorang Praktisi Pengobatan Islami menyatakan nama-nama berikut merupakan diantara nama-nama anak Jin dan disukai Jin.
    Walaupun sebutan nama-nama ini enak didengar dan maknanya indah, menurut pengalaman beliau yang banyak mengobati penyakit berkaitan dengan sihir dan gangguan makhluk halus, nama-nama ini dapat mendatangkan penyakit misteri kepada anak yang menggunakan nya.

    Sebaiknya orang tua tidak mengambil nama-nama di bawah ini untuk dinamakan pada anak-anak anda semua:

    1. Batrisya
    2. Qistina/Kistina
    3. Najwa
    4. Zaquan/Zakuan
    5. Balqis
    6. Erisya
    Peringatan daripada Ustaz Sharhan Shafie, kepada mereka yang mempunyai nama-nama seperti di atas TIDAK perlu menukar nama, tetapi cukuplah dengan menukar nama panggilan.Sebagai contoh, nama Nur najwa. Kalau sebelum ini nama panggilan adalah Najwa, sebaiknya ditukarkan kepada Nur saja.

    Namun, sesungguhnya segala macam penyakit semuanya datang dari Allah SWT. Bukan dari nama seseorang, semuanya ketentuan-Nya…

    Cuma apa yang Ustaz Sharhan mau sampaikan ialah, banyak pasien yang datang untuk mendapatkan rawatan, pasien itu namanya sama seperti nama-nama anak jin di atas.

    Sebab itulah Ustaz Sharhan menasihatkan, Sebaiknya hindari memberi nama anak seperti nama anak yang selalu ‘dipakai’ jin.

    Walau bagaimanapun, tidaklah salah atau berdosa jika sekiranya Anda Semua menggunakan nama tersebut…

    Wallahu a’lam

    Sumber : trendkita.com

    , ,



    Ibu yang memiliki bayi sering kali melarang bayinya memasukkan mainan ke mulutnya. Ibu takut karena mainan itu kotor, sehingga Ibu khawatir akan ada kotoran yang masuk ke pencernaan bayi, dst.

    “Biarkan bayi memasukkan mainan ke mulutnya,” jelas dr Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH., dalam sebuah temu media di Jakarta.


    Saat bayi memasukkan mainan ke mulutnya itulah saat ia mengeksplorasi lingkungannya melalui mulutnya. Inilah yang disebut sebagai fase oral.

    Fase oral ini merupakan tahapan perkembangan psikologis bayi. Bayi kurang dari umur 1 tahun masih dalam tahap perkembangan fase oral, yakni kepuasan atau rasa nikmat dan nyaman ada di daerah mulut dan sekitarnya. Oleh karena itu bayi sering kali memasukkan jari tangannya atau mainannya ke dalam mulut.

    Perilaku bayi ini normal dan nanti akan menghilang sendiri. Ini berguna untuk pematangan fungsi organ oro-motor yang kelak berguna untuk makan, bicara, dan lainnya. Perilaku tersebut jangan selalu dicegah, kecuali bila menyebabkan anak muntah. Sebaiknya hindari pemberian empeng. Ini tidak akan bermanfaat.

    Yang jelas, kepada bayi berikan mainan yang aman, tidak tajam, dan bersih. Juga, selalu jaga kebersihan tangan bayi. Sebelum mainan diberikan kepada bayi, sebaiknya bersihkan dahulu mainan tersebut dengan tissue basah.

    Jadi, Bunda, biarkan bayi memasukkan mainannya ke mulut ya.


    SUMBER : warungkopi.okezone.com

    , , ,



    Agnes, salah seorang pengguna sosial media path memposting status yang menceritakan kasus pengasuh yang menyewakan bayi majikannya. Agnes membeberkan cerita bahwa temannya di kantor mendadak resign dari pekerjaannya. Hal itu dilakukan setelah temannya tersebut mengetahui jika selama ini bayinya disewakan oleh baby sitter ke pengemis ketika ia berada di kantor.

    Rupanya ketika si ibu dan suaminya berangkat kerja, si baby sitter yang dibayar untuk merawat bayinya malah mencari penghasilan tambahan dengan menyewakan bayi yang diasuhnya tanpa sepengetahuan tuan rumah. Si bayi disewakan untuk digendong di jalanan ibukota dengan tarif 150 ribu dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Selama disewa si bayi digendong pengemis dibawah terik panas matahari. Tiap hari bayi tersebut diberi

    antimo oleh si penyewa supaya tidur terus dan tidak rewel.

    Agnes juga menceritaan terbongkarnya kasus ini yang bermula dari ayah si bayi memergoki anaknya sedang digendong pengemis di jalan.

    "Kasus ini terbongkar ketika ayah si bayi memergoki anaknya digendong oleh pengemis saat terjebak kemacetan, pas si bayi mau diminta, pengemis tetap tidak mau memberikan karena sewa bayinya sampai jam empat sore, " jelasnya.

    Atas kejadian yang dialaminya tersebut, ibu si bayi merasa sangat menyesal karena sudah meninggalkan bayi bersama pengasuhnya. Ia terus menangis dan menyesal karena lebih mementingkan pekerjaan daripada mengurus buah hatinya. Baginya, kejadian yang dialaminya tersebut sungguh sulit untuk dilupakan, uang berapapun tak bisa membayar kenangan buruk tersebut.

    Para ibu yang mempunyai bayi maupun balita, terutama yang hari-harinya sibuk bekerjadi luar rumah, berhati-hatilah dalam memilih pengasuh anak. Jangan sampai kejadian di atas dialami juga oleh kita.

    Bagikan kisah ini ke facebook agar dapat diambil pelajaran oleh para ibu yang sibuk di luar rumah dan agar bisa lebih waspada, dan tidak ada lagi kejadian seperti ini.

    Sumber : bunda.xyz

    , , ,




    Selain meringankan beban berat bayi, ada 6 keuntungan jika menggunakan gendongan :

    1. Anak dapat melihat sekitar dan menstimulasi otaknya.

    2. Meningkatkan bonding dengan anak.

    3. Gendongan dapat meringankan tugas ibu menggendong, karena dapat digunakan ayah atau anggota keluarga lainnya dengan mudah.

    4. Menggendong bayi selama 30-40 menit setelah ‘makan’ dapat meringankan rasa tidak nyaman akibat reflux atau gangguan lambung.

    5. Anda dapat menggunakan kedua tangan untuk melakukan pekerjaan lain sambil menggendong anak.

    6. Menggunakan gendongan dapat mengurangi sakit punggung pada orangtua, terutama bunda.

    Sumber : ayahbunda.co.id

    , ,



    Menjadi kebanggaan sendiri ketika orang tua memajang foto anak-anaknya di media sosial. Namun, tahukah Anda? Ternyata tidak semua anak menyukai kebiasaan orang tuanya tersebut.

    Anak-anak justru sering frustrasi karena itu. Dalam sebuah studi baru menyebutkan anak-anak dua kali lebih khawatir ketika orang dewasa berbagi terlalu banyak informasi tentang mereka secara online.

    "Anak-anak ingin orang tua meminta izin kepada mereka sebelum memposting segala sesuatu tentang mereka," kata salah satu penulis studi tersebut, Sarita Schoenebeck, seperti dilansir laman Today, Minggu.

    Anda mungkin mengira anak-anak tidak malu. Justru sebaliknya. Itu yang mereka rasakan ketika Anda berkali-kali mengunggah fotonya di media sosial.

    "Malu, itu pasti kata ana-anak dan satu lagi bahwa mereka ingin mengontrol informasi yang diposting tentang mereka secara online," ujar Schoenebeck.

    Ini masalah hukum yang serius di beberapa bagian dunia. Di Perancis, pihak berwenang memperingatkan orang tua bahwa anak-anak bisa menuntut mereka di kemudian hari karena melanggar hak atas privasi atau keamanan. Schoenebeck, asisten profesor di University of Michigan School of Information dan rekan-rekan penelitiannya menyatakan itu setelah melakukan survei 249 orang tua dengan anak-anak berusia 10-17 tahun.

    Penelitian lain difokuskan pada kekhawatiran orang dewasa tentang penggunaan media sosial anak-anak, tapi yang satu ini juga meminta persepektif anak-anak mereka. Apa yang mereka pikirkan tentang aturan teknologi di rumah mereka? Bagaimana perasaan mereka tentang perilaku online orang tua mereka?

    "Secara umum, anak-anak baik-baik saja dengan orang tua berbagi hal-hal positif tentang mereka di media sosial, seperti prestasi mereka, nilai bagus di sekolah dan mengambil bagian dalam pertandingan sepak bola atau resital," kata Schoenebeck.

    Hal-hal yang tidak disukai anak-anak untuk diunggah di online adalah foto bayi mereka. Bahkan foto nenek yang sedang mencium mereka pun dianggap cukup memalukan. Anak-anak ingin bertanggung jawab atas foto online mereka dan merasa dirusak ketika orang tua overshare.

    "Sebagai orang tua, kita harus berpikir tentang hal ini sejak anak lahir dan seterusnya atau bahkan sebelum lahir. Anak-anak ini akan tumbuh dan memiliki jejak kaki digital yang telah dibuat untuk mereka karena mereka sangat kecil," tutur Schoenebeck

    Dr. Deborah Gilboa, pakar parenting setuju anak-anak harus memiliki hak veto atas keputusan-keputusan foto postingan orang tua mereka. Anak harus bisa merasa mereka berada dalam kendali pertumbuhan diri secara pribadi.




    Sumber : jpnn.com

    , ,



    Sebuah video kontroversial tersebar melalui jejaring sosial dan memicu kemarahan publik. Video tersebut memperlihatkan anak-anak berseragam sekolah dasar melakukan twerking dan menari erotis.

    Situs berita Dailymail, Kamis (14/4/2016) melaporkan, video tersebut diposting ayah dari salah satu anak yang menari, Jorge Luis PĂ©rez di kota Camaguey, Kuba Tengah. 

    Dalam video berdurasi singkat itu. terlihat dua gadis cilik yang tidak diketahui usianya itu menari bersama dua teman pria. Mereka berliuk-liuk dan bahkan mempertontonkan gerakan adu kelamin. 

    Karena menuai kecaman, video dari Facebook telah dihapus. Namun ironisnya, video ini telah tersebar di media sosial dan ditonton lebih dari puluhan ribu kali dan semakin membuat marah netizen.

    Salah seorang netizen yang ikut berkomentar, Ricardo Hernandez mengatakan dirinya begitu terkejut. Dia bahkan mengecam orang tua dan kepala sekolah.

    "Kita telah kembali ke rumah bordil dan prostitusi di Kuba pada usia ini - Wow. Dimana orang tua dan kepala sekolah mereka? dan apa prinsip-prinsip moral yang mereka ajarkan di sekolah itu? Sekolah ini sampah," katanya.

    Sedangkan Isa Monzon menuliskan, "Mereka (Orangtua dan guru) telah mengajari mereka, kemudian mengeluh tentang prostitusi dan perkosaan yang memalukan. Bagaimana mereka bisa merusak masa kecil anak-anak ini?"

    Begitupun dengan Nancy Miranda yang berkomentar, "Tidak satupun dari mereka tahu tabel perkalian. Tetapi mereka dapat lap dance. Dimana guru??? Dan orang tua???"

    Sumber : health.liputan6.com

⬆
Top