Reporter : Yusuf Wibisono
Jombang (beritajatim.com) - Seorang oknum guru di SDN Mojojejer 1 Kecamatan Mojowarno, Jombang berinisial KES dilaporkan oleh istrinya sendiri ke bupati atas tuduhan perselingkuhan, Senin (3/3/2014). Saat laporan, sang istri yang bernama Indiah Sriwidayanti, membawa bukti berupa setumpuk foto suaminya bersama pasangan selingkuhnya, SN yang notebene guru di TK Kristen YBPK 1 Mojowarno.
"Saya sudah mengirimkan surat laporan ke bupati yang ditembuskan ke Kepala Disdik (Dinas Pendidikan), Kepala Inspektorat, serta instansi berkompeten lainnya," kata Indiah sembari memperlihatkan surat tanda terima laporan dari sekretariat daerah Kabupaten Jombang.
Indiah menjelaskan, hubungan perselingkuha antara suaminya dengan guru TK itu sebenarnya sudah lama. Namun setiap kali didesak dengan permasalahan tersebut, suaminya selalu mengelak. Sang suami tetap kukuh beralasan bahwa hubungan dia dengan SN sekedar rekan kerja, tidak lebih. Sejak itu, hubungan Indiah dengan sang suami tidak harmonis. Bahkan sejak empat tahun terakhir ini keduanya pisah ranjang.
Pun demikian, Indiah tetap memata-matai tindak tanduk suaminya. Dari hal itu, Indiah akhirnya mendapatkan informasi bahwasannya KES dan SN kerap meninggalkan jam dinas untuk sekedar jalan-jalan ke luar kota. Puncaknya, Jumat (28/2/2014), Indiah mendapatkan informasi lagi bahwa guru TK Mojowarno ada acara di Jombang.
Ia langsung menaruh curiga. Karena tidak ingin kecolongan, wanita berambut sebahu ini membuntuti SN. Ternyata benar. Oknum guru TK tersebut bukan ke arah Jombang, namun menuju perempatan Blimbing, Kecamatan Gudo untuk menitipkan sepeda motor. Di tempat tersebut, sebuah mobil sedan warna putih yang dikemudian KES sudah menunggu. Selanjutnya, guru SD dan guru TK tersebut meluncur ke arah Pare, Kabupaten Kediri.
Melalui orang suruhannya, Indiah terus membuntuti. Ternyata kedua pasangan tersebut ke sebuah warung lesehan di wilayah Benda, Kecamatan Pare. Sepulang dari warung lesehan tersebut KES dan SN dihentikan. "Kami sempat ramai di jalan, namun suami saya tetap tidak mengaku," kata Indiah saat memberikan surat laporan ke PWI Jombang.
Atas kasus tersebut, Indiah berharap Bupati Jombang melalui instansi terkait bersikap tegas terhadap KES. Karena yang bersangkutan merupakan guru yang berstatus PNS. "Apalagi signal perselingkuhan sudah 15 tahun, dan selama empat tahun saya tidak pernah dinafkahi," kata Indiah sembari memaperkan foto-foto suaminya saat berada di warung lesehan bersama selingkuhannya. [suf/kun]
"Saya sudah mengirimkan surat laporan ke bupati yang ditembuskan ke Kepala Disdik (Dinas Pendidikan), Kepala Inspektorat, serta instansi berkompeten lainnya," kata Indiah sembari memperlihatkan surat tanda terima laporan dari sekretariat daerah Kabupaten Jombang.
Indiah menjelaskan, hubungan perselingkuha antara suaminya dengan guru TK itu sebenarnya sudah lama. Namun setiap kali didesak dengan permasalahan tersebut, suaminya selalu mengelak. Sang suami tetap kukuh beralasan bahwa hubungan dia dengan SN sekedar rekan kerja, tidak lebih. Sejak itu, hubungan Indiah dengan sang suami tidak harmonis. Bahkan sejak empat tahun terakhir ini keduanya pisah ranjang.
Pun demikian, Indiah tetap memata-matai tindak tanduk suaminya. Dari hal itu, Indiah akhirnya mendapatkan informasi bahwasannya KES dan SN kerap meninggalkan jam dinas untuk sekedar jalan-jalan ke luar kota. Puncaknya, Jumat (28/2/2014), Indiah mendapatkan informasi lagi bahwa guru TK Mojowarno ada acara di Jombang.
Ia langsung menaruh curiga. Karena tidak ingin kecolongan, wanita berambut sebahu ini membuntuti SN. Ternyata benar. Oknum guru TK tersebut bukan ke arah Jombang, namun menuju perempatan Blimbing, Kecamatan Gudo untuk menitipkan sepeda motor. Di tempat tersebut, sebuah mobil sedan warna putih yang dikemudian KES sudah menunggu. Selanjutnya, guru SD dan guru TK tersebut meluncur ke arah Pare, Kabupaten Kediri.
Melalui orang suruhannya, Indiah terus membuntuti. Ternyata kedua pasangan tersebut ke sebuah warung lesehan di wilayah Benda, Kecamatan Pare. Sepulang dari warung lesehan tersebut KES dan SN dihentikan. "Kami sempat ramai di jalan, namun suami saya tetap tidak mengaku," kata Indiah saat memberikan surat laporan ke PWI Jombang.
Atas kasus tersebut, Indiah berharap Bupati Jombang melalui instansi terkait bersikap tegas terhadap KES. Karena yang bersangkutan merupakan guru yang berstatus PNS. "Apalagi signal perselingkuhan sudah 15 tahun, dan selama empat tahun saya tidak pernah dinafkahi," kata Indiah sembari memaperkan foto-foto suaminya saat berada di warung lesehan bersama selingkuhannya. [suf/kun]
Reporter : Misti P.
Mojokerto (beritajatim.com) - Mobil Elf nopol AG 7488 GA yang dikemudikan Kholis (40) warga Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Jombang yang membawa rombongan keroncong SMKN 3 Jombang berpenumpang 15 orang terbalik di jalur tengkorak Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Dua pelajar terluka.
Kanit Laka, Satlantas Polres Mojokerto, Ipda Sariyanto mengatakan, kecelakaan pertama rombongan warga Nganjuk dari Malang. "Mobil pertama dikemudikan Indra Bayu (17), rombongan dari Malang. Ada 10 penumpang, semua selamat. Kecelakaan lebih karena sopir tidak tahu medan," ungkapnya, Minggu (23/02/2014).
Masih kata Kanit, kecelakaan kedua dari 16 penumpang, dua pelajar rombongan keroncongan SMKN 3 Jombang mengalami luka. Mobil yang dikemudikan Kholis (40) warga Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Jombang ini juga terbalik sama dengan mobil pertama.
"Mereka dari Malang mau pulang ke Jombang, dari 16 penumpang, dua penumpang diantaranya terluka. Satu korban luka parah tangan sebelah kiri dan satu korban mengalami luka terbuka pada kaki sebelah kiri. Untuk 14 penumpang yang lain baik-baik saja," jelasnya. [tin/kun]
Mojokerto (beritajatim.com) - Mobil Elf nopol AG 7488 GA yang dikemudikan Kholis (40) warga Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Jombang yang membawa rombongan keroncong SMKN 3 Jombang berpenumpang 15 orang terbalik di jalur tengkorak Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Dua pelajar terluka.
Kanit Laka, Satlantas Polres Mojokerto, Ipda Sariyanto mengatakan, kecelakaan pertama rombongan warga Nganjuk dari Malang. "Mobil pertama dikemudikan Indra Bayu (17), rombongan dari Malang. Ada 10 penumpang, semua selamat. Kecelakaan lebih karena sopir tidak tahu medan," ungkapnya, Minggu (23/02/2014).
Masih kata Kanit, kecelakaan kedua dari 16 penumpang, dua pelajar rombongan keroncongan SMKN 3 Jombang mengalami luka. Mobil yang dikemudikan Kholis (40) warga Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Jombang ini juga terbalik sama dengan mobil pertama.
"Mereka dari Malang mau pulang ke Jombang, dari 16 penumpang, dua penumpang diantaranya terluka. Satu korban luka parah tangan sebelah kiri dan satu korban mengalami luka terbuka pada kaki sebelah kiri. Untuk 14 penumpang yang lain baik-baik saja," jelasnya. [tin/kun]
Kamis, 01 Mei 2014 08:55:18
Reporter : Yusuf Wibisono
Jombang (beritajatim.com) - Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menghadiri puncak peringatan haul pendiri Nahdlatul Ulama KH Bisri Syansuri ke-35 di Ponpes Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang, Rabu (30/4/2014) malam. Kedatangan dua tokoh tersebut sekaligus pulang kampung mengingat mereka berdua adalah cucu dari kiai kharismatik tersebut.
Selain Cak Imin dan Gus Ipul, sejumlah kiai juga terlihat di acara tersebut. Tidak ketinggalan pula para pejabat di lingkungan Pemkab Jombang serta ribuan pengunjung membanjiri lokasi. Para kiai yang hadir diantaranya KH Azis Mashuri (Ponpes Al-aziziyah Denanyar), KH Jamaludin (pengasuh Ponpes Al Muhibbin Tambakberas) dan KH Qoyyum (Jawa Tengah).
Selain itu, hadir pula Wakil Ketua DPRD Provinsi Jatim, A Halim Iskandar, Wakil Bupati Jombang Mundjidah Wahab, serta sejumlah pejabat eselon kementerian dari Jakarta. "Alhamdulillah, kita semua masih mencintai NU," ujar Cak Imin saat memberikan sambutan.
Cak Imin lantas menceritakan sejarah dan perjuangan NU di masa lampau. Menurutnya, NU dikagumi dan dibanggakan banyak orang karena tiga hal. Pertama, cara pandang NU yang khusuk dan sederhana. Kedua, warga NU tidak banyak menuntut serta penuh keikhlasan. Terakhir, NU lebih mengedepankan kebersamaan ketimbang sesuatu yang bermotif pribadi.
"Karena itulah NU sangat dikagumi. Bahkan umat non muslim juga kagum dengan NU. Makanya, mari melanjutkan warisan para kiai pendiri NU, sebab kaidahnya jelas, semuanya ada dan tinggal melanjutkan," kata cucu Kiai Bisri Syansuri yang disambut aplaus ribuan hadirin.
Sementara itu, salah satu hadirin Dimas Cokro Pamungkas atau Gus Dimas sangat apresiatif dengan apa yang disampaikan Cak Imin. Menurutnya, memang sudah selayaknya warga nahdliyin melanjutkan perjuangan para pendiri NU tersebut. Ia juga sepakat jika para pendiri NU tersebut diberi gelar pahlawan nasional.
"Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional. Seharusnya KH Bisri Syansuri dan KH Wahab Chasbullah juga mendapatkan gelar serupa. Karena peran beliau-beliau itu sangat besar terhadap berdiri NKRI," kata Ketua PSNU (Pencak Silat Nahdlatul Ulama) Pagar Nusa Peguron Sapujagad Jombang, ini.
Terkait dengan peringatan haul KH Bisri Syansuri, Gus Dimas mengaku rutin hadir setiap tahun. Bahkan pihaknya juga menerjunkan puluhan pendekar Pagar Nusa untuk mengamankan acara tersebut. "Pendekar Pagar Nusa juga ikut mengamankan acara haul Mbah Bisri ke-35 ini. Alhamdulillah semuanya lancar," pungkas warga Desa Wangkalkepuh, Kecamatan Gudo, Jombang ini. [suf/but]
Reporter : Yusuf Wibisono
Jombang (beritajatim.com) - Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menghadiri puncak peringatan haul pendiri Nahdlatul Ulama KH Bisri Syansuri ke-35 di Ponpes Mambaul Ma'arif Denanyar Jombang, Rabu (30/4/2014) malam. Kedatangan dua tokoh tersebut sekaligus pulang kampung mengingat mereka berdua adalah cucu dari kiai kharismatik tersebut.
Selain Cak Imin dan Gus Ipul, sejumlah kiai juga terlihat di acara tersebut. Tidak ketinggalan pula para pejabat di lingkungan Pemkab Jombang serta ribuan pengunjung membanjiri lokasi. Para kiai yang hadir diantaranya KH Azis Mashuri (Ponpes Al-aziziyah Denanyar), KH Jamaludin (pengasuh Ponpes Al Muhibbin Tambakberas) dan KH Qoyyum (Jawa Tengah).
Selain itu, hadir pula Wakil Ketua DPRD Provinsi Jatim, A Halim Iskandar, Wakil Bupati Jombang Mundjidah Wahab, serta sejumlah pejabat eselon kementerian dari Jakarta. "Alhamdulillah, kita semua masih mencintai NU," ujar Cak Imin saat memberikan sambutan.
Cak Imin lantas menceritakan sejarah dan perjuangan NU di masa lampau. Menurutnya, NU dikagumi dan dibanggakan banyak orang karena tiga hal. Pertama, cara pandang NU yang khusuk dan sederhana. Kedua, warga NU tidak banyak menuntut serta penuh keikhlasan. Terakhir, NU lebih mengedepankan kebersamaan ketimbang sesuatu yang bermotif pribadi.
"Karena itulah NU sangat dikagumi. Bahkan umat non muslim juga kagum dengan NU. Makanya, mari melanjutkan warisan para kiai pendiri NU, sebab kaidahnya jelas, semuanya ada dan tinggal melanjutkan," kata cucu Kiai Bisri Syansuri yang disambut aplaus ribuan hadirin.
Sementara itu, salah satu hadirin Dimas Cokro Pamungkas atau Gus Dimas sangat apresiatif dengan apa yang disampaikan Cak Imin. Menurutnya, memang sudah selayaknya warga nahdliyin melanjutkan perjuangan para pendiri NU tersebut. Ia juga sepakat jika para pendiri NU tersebut diberi gelar pahlawan nasional.
"Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari sudah mendapatkan gelar pahlawan nasional. Seharusnya KH Bisri Syansuri dan KH Wahab Chasbullah juga mendapatkan gelar serupa. Karena peran beliau-beliau itu sangat besar terhadap berdiri NKRI," kata Ketua PSNU (Pencak Silat Nahdlatul Ulama) Pagar Nusa Peguron Sapujagad Jombang, ini.
Terkait dengan peringatan haul KH Bisri Syansuri, Gus Dimas mengaku rutin hadir setiap tahun. Bahkan pihaknya juga menerjunkan puluhan pendekar Pagar Nusa untuk mengamankan acara tersebut. "Pendekar Pagar Nusa juga ikut mengamankan acara haul Mbah Bisri ke-35 ini. Alhamdulillah semuanya lancar," pungkas warga Desa Wangkalkepuh, Kecamatan Gudo, Jombang ini. [suf/but]
Reporter : Yusuf Wibisono
Jombang (beritajatatim.com) - Penghasilan pengemis cilik yang sejumlah titik strategis di Jombang cukup mencengangkan. Mereka mengaku mengantongi pengahsilan Rp 100 ribu perhari. Tempat operasinya, di Pasar Citra Niaga atau Pasar Legi, Alun-alun, serta persimpangan lampu merah atau trafigh light.
Seperti yang ditemui di kawasan Pasar Citra Niaga Jombang. Para pengemis cilik berusia 6 hingga 11 tahun. Semisal FB, RG, RN, serta RS. Setiap hari mereka mengemis dari pagi hingga siang. "Tidak ada bos yang menyuruh kami mengemis," kata FB, pengemis yang berusia 6 tahun, Jumat (7/2/2014).
Dengan polos FB mengaku, ia mengemis di Pasar Citra Niaga mulai siang sepulang sekolah hingga malam selepas magrib. Nah, selama sehari itu, FB mendapatkan uang sebesar Rp 100 ribu. "Hasilnya untuk membeli buku sekolah," katanya polos.
Bukan hanya FB, bocah-bocah kecil lainnya yang mengemis di Pasar Legi juga melontarkan pengakuan serupa. Ironisnya, mereka mengemis karena ajakan sang ibu. "Ibu saya juga mengemis di sini (Pasar Legi)," tambah RG, pengamis lainnya yang berumur 10 tahun.
Meski setiap hari mengais rejeki dengan meminta-minta, namun soal cita-cita mereka tidak kalah dengan bocah pada umumnya. Dari pengakuannya, mereka ingin menjadi polisi, guru, bahkan ada yang bercita-cita menjadi dokter. Namun saat ditanya sampai kapan akan mengemis, mereka hanya menggelengkan kepala. [suf/kun]
Jombang (beritajatatim.com) - Penghasilan pengemis cilik yang sejumlah titik strategis di Jombang cukup mencengangkan. Mereka mengaku mengantongi pengahsilan Rp 100 ribu perhari. Tempat operasinya, di Pasar Citra Niaga atau Pasar Legi, Alun-alun, serta persimpangan lampu merah atau trafigh light.
Seperti yang ditemui di kawasan Pasar Citra Niaga Jombang. Para pengemis cilik berusia 6 hingga 11 tahun. Semisal FB, RG, RN, serta RS. Setiap hari mereka mengemis dari pagi hingga siang. "Tidak ada bos yang menyuruh kami mengemis," kata FB, pengemis yang berusia 6 tahun, Jumat (7/2/2014).
Dengan polos FB mengaku, ia mengemis di Pasar Citra Niaga mulai siang sepulang sekolah hingga malam selepas magrib. Nah, selama sehari itu, FB mendapatkan uang sebesar Rp 100 ribu. "Hasilnya untuk membeli buku sekolah," katanya polos.
Bukan hanya FB, bocah-bocah kecil lainnya yang mengemis di Pasar Legi juga melontarkan pengakuan serupa. Ironisnya, mereka mengemis karena ajakan sang ibu. "Ibu saya juga mengemis di sini (Pasar Legi)," tambah RG, pengamis lainnya yang berumur 10 tahun.
Meski setiap hari mengais rejeki dengan meminta-minta, namun soal cita-cita mereka tidak kalah dengan bocah pada umumnya. Dari pengakuannya, mereka ingin menjadi polisi, guru, bahkan ada yang bercita-cita menjadi dokter. Namun saat ditanya sampai kapan akan mengemis, mereka hanya menggelengkan kepala. [suf/kun]
Reporter : Yusuf Wibisono
Jombang (beritajatim.com) - Mengawali karir di tahun 1995 sebagai security di salah satu perusahaan swasta di Malang, Imam Chalimi (40), mencoba mengubah nasibnya dengan membuka usaha kripik tempe di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Jombang. Kini omset usahanya mencapai Rp 7 juta per bulan. Sedangkan pengiriman makanan ringan tersebut sudah menembus hingga ibukota Jakarta.
Ketika pagi masih buta Imam sudah terjaga dari tidurnya. Ia kemudian menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung. Bukan itu saja, ia juga menjajakan hasil usahanya sampai ke luar kota, semisal Malang dan Surabaya. "Sekita tahun 2005 saya mulai bisnis tempe," katanya singkat, Kamis (6/12/2014).
Usaha yang dulunya kecil itu kini menampakkan perkembangan. Imam tidak lagi blusukan dari kampung ke kampung untuk memasarkan dagangannya. Pasalnya, selain rasanya yang gurih, kripik tempe Putri Sekar Arum Asli Jombang ini tetap menjadi primadona masyarakat dan menjadi hidangan yang merakyat.
Kripik asli khas Jombang yang berdiri sejak tahun 2005 ini sudah menembus pasar luar kota seperti Jogyakarta, Surabaya, Malang hingga Jakarta. Hal ini membuat kripik tempe Imam dikenal oleh masyarakat dan menjadi oleh-oleh wajib setiap orang yang berkunjung ke kota Jombang.
Disinggung soal omset, Imam menjelaskan, untuk penghasilan laba kotor perbulan sekitar Rp 7 juta, sedangkan untuk laba bersihnya rata-rata bisa mencapai Rp 3,5 juta. "Karena saya menggunakan tempe murni. Biasanya omset itu bisa sangat tinggi ketika para pembuat tempe itu tidak menggunakan tempe asli," ujarnya. [suf/but]
Jombang (beritajatim.com) - Mengawali karir di tahun 1995 sebagai security di salah satu perusahaan swasta di Malang, Imam Chalimi (40), mencoba mengubah nasibnya dengan membuka usaha kripik tempe di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Jombang. Kini omset usahanya mencapai Rp 7 juta per bulan. Sedangkan pengiriman makanan ringan tersebut sudah menembus hingga ibukota Jakarta.
Ketika pagi masih buta Imam sudah terjaga dari tidurnya. Ia kemudian menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung. Bukan itu saja, ia juga menjajakan hasil usahanya sampai ke luar kota, semisal Malang dan Surabaya. "Sekita tahun 2005 saya mulai bisnis tempe," katanya singkat, Kamis (6/12/2014).
Usaha yang dulunya kecil itu kini menampakkan perkembangan. Imam tidak lagi blusukan dari kampung ke kampung untuk memasarkan dagangannya. Pasalnya, selain rasanya yang gurih, kripik tempe Putri Sekar Arum Asli Jombang ini tetap menjadi primadona masyarakat dan menjadi hidangan yang merakyat.
Kripik asli khas Jombang yang berdiri sejak tahun 2005 ini sudah menembus pasar luar kota seperti Jogyakarta, Surabaya, Malang hingga Jakarta. Hal ini membuat kripik tempe Imam dikenal oleh masyarakat dan menjadi oleh-oleh wajib setiap orang yang berkunjung ke kota Jombang.
Disinggung soal omset, Imam menjelaskan, untuk penghasilan laba kotor perbulan sekitar Rp 7 juta, sedangkan untuk laba bersihnya rata-rata bisa mencapai Rp 3,5 juta. "Karena saya menggunakan tempe murni. Biasanya omset itu bisa sangat tinggi ketika para pembuat tempe itu tidak menggunakan tempe asli," ujarnya. [suf/but]
Selasa, 04 Februari 2014 15:08:19
Reporter : Yusuf Wibisono
Jombang (beritajatim.com) - Sebuah rumah kontrakan di Dusun Dayu, Desa Tunggorono, Jombang Kota digerebek warga. Pasalnya, sang pemilik rumah, menyewakan kamar untuk berbuat mesum. Harga sewa kamar untuk 'ngos-ngosan' itu relatif murah, yakni hanya Rp 25 ribu sekali pakai.
Pemilik kontrakan tersebut akhirnya digelandang polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia adalah Helena Tunru (43), perempuan kelahiran Sulawesi yang sudah lama tinggal di Jombang. Polisi juga masih mendalami kasus tersebut karena kuat dugaan Helena juga menyediakan gadis di bawah umur untuk melayani pelanggannya.
Digerebeknya rumah kontrakan milik Helena berawal dari kecurigaan warga setempat. Pasalnya, warga sering memergoki pasangan muda-mudi memasuki rumah tersebut hingga beberapa jam. Dari kecurigaan itu, warga kemudian melakukan penyanggongan. Gayung pun bersambut. Ada pasangan remaja yang masuk ke rumah itu lagi.
Tanpa menunggu waktu lama, massa kemudian menggedor sebuah kamar yang sebelumnya terkunci rapat. Nah saat pintu terbuka, terlihatlah dua sejoli yang sedang bergumul di atas ranjang. "Setelah itu, kasus ini kami serahkan ke polisi," ujar Sutarji (45), warga setempat.
Kepala Sub Bagian Humas Polres Jombang AKP Sugeng Widodo membenarkan adanya kasus tersebut. Bahkan, lanjut Widodo, polisi sudah menetapkan Helena sebagai tersangka. "Dia sudah kita tahan. Tersangka mengakui semua perbuatannya, yakni menyewakan tempat untuk berbuat mesum," kata Widodo, Selasa (4/2/2014).
Widodo menjelaskan, selama ini tersangka memang mereguk keuntungan dari bisnis sewa kamar mesum. Pelanggannya bermacam-macam, mulai orang dewasa hingga kalangan pelajar. Kepada petugas, Helena mengatakan bahwa tarif sekali sewa sebesar Rp 25 ribu.
"Atas perbuatannya pelaku kita jerat pasal 296 dan 506 KUHP tentang seseorang yang mata pencahariannya memudahkan perbuatan cabul, atau mengambil untung dari proses pelacuran perempuan. Ancaman hukumannya satu tahun empat bulan," pungkas Widodo. [suf/kun]
Reporter : Yusuf Wibisono
Berita Terkait
Jombang (beritajatim.com) - Sebuah rumah kontrakan di Dusun Dayu, Desa Tunggorono, Jombang Kota digerebek warga. Pasalnya, sang pemilik rumah, menyewakan kamar untuk berbuat mesum. Harga sewa kamar untuk 'ngos-ngosan' itu relatif murah, yakni hanya Rp 25 ribu sekali pakai.
Pemilik kontrakan tersebut akhirnya digelandang polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia adalah Helena Tunru (43), perempuan kelahiran Sulawesi yang sudah lama tinggal di Jombang. Polisi juga masih mendalami kasus tersebut karena kuat dugaan Helena juga menyediakan gadis di bawah umur untuk melayani pelanggannya.
Digerebeknya rumah kontrakan milik Helena berawal dari kecurigaan warga setempat. Pasalnya, warga sering memergoki pasangan muda-mudi memasuki rumah tersebut hingga beberapa jam. Dari kecurigaan itu, warga kemudian melakukan penyanggongan. Gayung pun bersambut. Ada pasangan remaja yang masuk ke rumah itu lagi.
Tanpa menunggu waktu lama, massa kemudian menggedor sebuah kamar yang sebelumnya terkunci rapat. Nah saat pintu terbuka, terlihatlah dua sejoli yang sedang bergumul di atas ranjang. "Setelah itu, kasus ini kami serahkan ke polisi," ujar Sutarji (45), warga setempat.
Kepala Sub Bagian Humas Polres Jombang AKP Sugeng Widodo membenarkan adanya kasus tersebut. Bahkan, lanjut Widodo, polisi sudah menetapkan Helena sebagai tersangka. "Dia sudah kita tahan. Tersangka mengakui semua perbuatannya, yakni menyewakan tempat untuk berbuat mesum," kata Widodo, Selasa (4/2/2014).
Widodo menjelaskan, selama ini tersangka memang mereguk keuntungan dari bisnis sewa kamar mesum. Pelanggannya bermacam-macam, mulai orang dewasa hingga kalangan pelajar. Kepada petugas, Helena mengatakan bahwa tarif sekali sewa sebesar Rp 25 ribu.
"Atas perbuatannya pelaku kita jerat pasal 296 dan 506 KUHP tentang seseorang yang mata pencahariannya memudahkan perbuatan cabul, atau mengambil untung dari proses pelacuran perempuan. Ancaman hukumannya satu tahun empat bulan," pungkas Widodo. [suf/kun]
Reporter : Yusuf Wibisono
Jombang (beritajatim.com) - Sungguh bejat kelakukan M Sulkan (51) warga Desa Dusun Banggle, Desa Dapur Kejambon, Jombang Kota. Ia tega memperkosa anak tirinya, berinisial IN (11), hingga puluhan kali. Namun aksi bejat Sulkan akhirnya tercium, ia pun dibekuk petugas Polres Jombang di rumahnya, Selasa (4/2/2014).
"Berapa kali saya sudah lupa. Yang pasti lebih dari 10 kali saya memperkosa anak tiri. Sekarang saya menyesal," kata Sulkan sembari menunduk saat berada di ruang Sub Bagian Humas Polres Jombang.
Hanya saja, saat ditanya modus persetubuhan tersebut, Sulkan enggan berterus terang. Pria yang bekerja serabutan ini lagi-lagi hanya menunduk dan mengaku menyesal atas tindakan yang ia lakukan.
Kepala Sub Bagian Humas Polres Jombang AKP Sugeng Widodo membenarkan aksi bejat yang dilakukan Sulkan. Menurut Widodo, perbuatan itu dilakukan sejak tiga bulan terakhir ini. Selama ini, korban IN tinggal di rumah neneknya di Dusun Banggle. Sedangkan Sulkan dan sang istri tinggal di Desa Candi Mulyo, Jombang Kota.
Hanya saja, setiap Sabtu dan Minggu, IN selalu berkunjung ke rumah ibu kandungnya yang tinggal serumah dengan Sulkan di Candi Mulyo. Nah, saat berada di rumah itulah pelaku melancarkan aksinya. Yakni, saat sang istri tertidur pulas, ia gantian minta 'jatah' ke bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar tersebut.
Usai melampiaskan nafsu bejatnya, Sulkan mengancam sang anak agar tidak menceritakan perbuatan itu ke orang lain, termasuk ke ibu kandungnya. Sebagai bentuk tutup mulut, pelaku juga memberikan uang sogokan sebesar Rp 5 ribu. Aksi Sulkan berjalan mulus hingga beberapa bulan.
Namun ibarat pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Demikian juga dengan perbuatan Sulkan yang akhirnya terendus oleh istrinya sendiri. "Perkosaan itu kadang dilakukan pada siang hari. Namun yang paling sering pada malam hari, yakni saat sang istri terlelap tidur," lanjut Widodo.
Terbongkarnya tindak asusila tersebut bermula dari kondisi psikologis korban yang berubah. Bocah yang masih duduk di sekolah dasar itu kerap menyendiri. Dari sikap itu, sang nenek kemudian curiga hingga menyanyakannya. Saat didesak itulah korban dengan gamblang menceritakan petaka yang dialami.
"Oleh keluarga, kasus ini kemudian dilaporkan ke polisi. Pelaku dijerat pasal 81 UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancamannya, 15 tahun penjara dan minimal 3 tahun penjara atau denda Rp 300 juta," pungkas Widodo. [suf/ted]
Berita Terkait
Jombang (beritajatim.com) - Sungguh bejat kelakukan M Sulkan (51) warga Desa Dusun Banggle, Desa Dapur Kejambon, Jombang Kota. Ia tega memperkosa anak tirinya, berinisial IN (11), hingga puluhan kali. Namun aksi bejat Sulkan akhirnya tercium, ia pun dibekuk petugas Polres Jombang di rumahnya, Selasa (4/2/2014).
"Berapa kali saya sudah lupa. Yang pasti lebih dari 10 kali saya memperkosa anak tiri. Sekarang saya menyesal," kata Sulkan sembari menunduk saat berada di ruang Sub Bagian Humas Polres Jombang.
Hanya saja, saat ditanya modus persetubuhan tersebut, Sulkan enggan berterus terang. Pria yang bekerja serabutan ini lagi-lagi hanya menunduk dan mengaku menyesal atas tindakan yang ia lakukan.
Kepala Sub Bagian Humas Polres Jombang AKP Sugeng Widodo membenarkan aksi bejat yang dilakukan Sulkan. Menurut Widodo, perbuatan itu dilakukan sejak tiga bulan terakhir ini. Selama ini, korban IN tinggal di rumah neneknya di Dusun Banggle. Sedangkan Sulkan dan sang istri tinggal di Desa Candi Mulyo, Jombang Kota.
Hanya saja, setiap Sabtu dan Minggu, IN selalu berkunjung ke rumah ibu kandungnya yang tinggal serumah dengan Sulkan di Candi Mulyo. Nah, saat berada di rumah itulah pelaku melancarkan aksinya. Yakni, saat sang istri tertidur pulas, ia gantian minta 'jatah' ke bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar tersebut.
Usai melampiaskan nafsu bejatnya, Sulkan mengancam sang anak agar tidak menceritakan perbuatan itu ke orang lain, termasuk ke ibu kandungnya. Sebagai bentuk tutup mulut, pelaku juga memberikan uang sogokan sebesar Rp 5 ribu. Aksi Sulkan berjalan mulus hingga beberapa bulan.
Namun ibarat pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Demikian juga dengan perbuatan Sulkan yang akhirnya terendus oleh istrinya sendiri. "Perkosaan itu kadang dilakukan pada siang hari. Namun yang paling sering pada malam hari, yakni saat sang istri terlelap tidur," lanjut Widodo.
Terbongkarnya tindak asusila tersebut bermula dari kondisi psikologis korban yang berubah. Bocah yang masih duduk di sekolah dasar itu kerap menyendiri. Dari sikap itu, sang nenek kemudian curiga hingga menyanyakannya. Saat didesak itulah korban dengan gamblang menceritakan petaka yang dialami.
"Oleh keluarga, kasus ini kemudian dilaporkan ke polisi. Pelaku dijerat pasal 81 UU RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancamannya, 15 tahun penjara dan minimal 3 tahun penjara atau denda Rp 300 juta," pungkas Widodo. [suf/ted]
Top 5 Popular of The Week
-
TobaTimes - Sungguh gila dan memprihatinkan. Pergaulan siswa SMP di Samarinda, Kalimantan Timur, semakin liar. Mereka tak segan-segan berbua...
-
Anjaam (1994) Movie Mp3 Songs Badi Muskil Hai_Anjaam Download Barson Ke Bad_Anjaam Download Channe Ke Khet Main_Anjaam Download...
-
TobaTimes - Seorang gadis remaja yanga bahenol berusia 15 tahun, dicabuli DD (30), seorang mandor sebuah perusahaan perkebunan di Desa Mend...
-
Berikut ini Adalah Biodata Fraser Forster Lengkap, Penjaga gawang Timnas Inggris, biodata-artisidolaFraser Forster Biografi Fraser Forster � Lahir di kota Hexham, Inggris, tepatnya pada tanggal 17 Maret 1988. Fraser sendiri adalah seorang ...
-
Diduga disekap majikannya JOMBANG – Persoalan Tanaga Kerja Indonesia (TKI) tak ada habisnya, Kali ini menimpa Dewi Fitri (21) warga Dusun Ge...
-
Sinopsis Pangako Sa’yo (Janjiku) MNCTV - Kisah Pangako Sa’yo berawal dari Amor de Jesus yang merupakan mahasiswi keperawatan yang bermimpi m...
-
Beberapa pasangan dapat hamil dengan mudah, sedangkan pasangan lainnya merasa kesulitan untuk hamil. Sebenarnya adanya kesulitan untuk hamil...
-
Kumpulan Full Album Lagu NDX AKA Mp3 Terbaru dan Lengkap 2018 | NDX AKA ialah kumpulan penyanyi hiphop Indonesia yang memiliki bakat dan ...
-
Menjadi kebanggaan sendiri ketika orang tua memajang foto anak-anaknya di media sosial. Namun, tahukah Anda? Ternyata tidak semua anak menyu...
-
Penggemar berat film Bollywood mustahil tak tahu film romantis yang satu ini, Kuch Kuch Hota Hai. Ya, film yang dibintangi Shah Rukh Khan, K...